Persiapkan diri Anda jika memang mobil Anda sering mogok atau memiliki potensi untuk mogok. Jika mobil Anda mogok di jalan tol, berikut ini adalah langkah-langkah yang harus Anda lakukan.
Tips Menangani Mobil Mogok di Jalan Tol
Kencan 2 Menit dengan Sedan Sport Mercy Seharga Rp 3 Miliar
Untuk pertama kalinya detikOto berkesempatan 'kencan' dengan sedan sport Mercy keluaran terbaru yang seharga Rp 3.039.000.000 (off the road).
Tapi sedikit kurang beruntung, karena cuaca sehabis hujan maka tim dari PT Mercedes-Benz Indonesia (MBI) hanya memperbolehkan detikOto duduk di jok penumpang depan.
Hmm... Sedikit kecewa sih, tapi daripada tidak sama sekali, maka tawaran itupun tidak disia-siakan. detikOto langsung mengiyakan tawaran dan duduk di jok penumpang bagian depan dengan ditemani 1 instruktur yang mengemudi.
Tidak lama memang, Mercedes-Benz Indonesia hanya memberikan 1 lap saja. Waktunya kurang lebih hanya 2 menit.
Asam di Gunung Garam Rembang
Perjalanan ini menjadi tantangan yang berbeda dibandingkan riding sebelumnya. Selain kewaspadaan penuh pada saat riding, suhu yang panas, juga ketahanan mesin motor.
Rupanya jalur lurus bergelombang akibat digilas setiap saat oleh truk hingga tronton, tanpa sengaja menjadi jalur uji coba ketangguhan Viar Cross X 200 SE.
Di trek lurus antara Surabaya-Rembang, tim VJI mencoba membuka gas penuh di gigi tertinggi (gigi lima) dengan durasi panjang, antara 20 hingga 40 menit, tanpa jeda!.
Pada mulanya kami hawatir kemungkinan mesin jebol, atau setidaknya oli seal bocor, namun setibanya di Rembang, rupanya tidak masalah, padahal di riding sebelumnya mesin sudah kami “siksa”.
Dalam perjalanan memasuki Rembang, mata kami disuguhi lautan padang garam sepanjang pesisir pantai utara.
Memang benar, kota ini dikenal sebagai penghasil garam terbesar di Indonesia, dengan luas 1.584.42 ha, dengan jumlah pekerja 4.120 lebih.
Rupanya para petani garam Rembang ini memegang peranan penting untuk ketahanan garam nasional. Sebagai gambaran, di tahun 2010 produksi garam Rembang mencapai 125.119.4 ton, atau sekitar 6,7 persen kebutuhan garam nasional.
Namun jumlah besar tersebut belum berhasil meningkatkan taraf hidup warga Rembang, karena mekanisme jual-beli dan distribusi garam krosok dikuasai kapitalis.
Petani garam tidak bisa menjual langsung, karena akses ke pasar ditutup oleh para pelaku ekonomi di jalur pemasaran. Jadi para petani garam diposisikan sebagai produsen.
Tiba di Rembang, kami diterima oleh komunitas trail adventure CITRADA, MTC Adventure dan Starda Adventure Pati di dealer Viar Sakti Motor Rembang.
Jelang sore, riding dilanjutkan ke Pati Jawa Tengah, yang diterima langsung oleh Sekda Pemerintah Daerah Kabupaten Pati.
Di pendopo Pemda Pati, tim VJI bersilaturahmi sekaligus tukar-pengalaman selama riding di depan klub trail adventure Pati X-Trail Adventure, Tong Setan Trail Adventure dan TOP Trail Adventure Pati.
Pertemuan ini kemudian ditutup dengan suguhan kuliner khas Pati, yaitu nasi Gendhol.
Sejak meninggalkan Surabaya, tercatat 245.28 km, dengan durasi perjalanan 5 jam lebih, dengan rute Surabaya, Gresik, Lamongan, Lasem-Rembang dan Pati.
Tips Agar Enteng Bayar Cicilan Mobil
Akan tetapi, jangan sampai hasrat yang begitu besar untuk memiliki mobil tersebut membutakan mata Anda mengenai kondisi finansial yang saat itu sedang dialami, atau pengeluaran yang harus dilakukan dalam beberapa tahun ke depan.
Agar Anda tidak bermasalah ketika mengambil kredit mobil dan lalai dalam membayar cicilan bulanan, berikut ini adalah tips untuk menekan beban kredit mobil.
Tips Berkendara dengan Aman Saat Hujan dari Chevy
Saatnya pengendara lebih berhati-hati saat mengemudi di permukaan jalan yang diguyur hujan dan disertai tantangan lain seperti berkurangnya visibilitas, jalanan licin, genangan air, serta rintangan lain yang tak terduga seperti pohon tumbang.
Chevrolet menyebutkan mobil mereka sudah dilengkapi dengan berbagai fitur keamanan yang membantu pengendara saat hujan. Sebut saja kontrol traksi pada Chevrolet Captiva AWD.
Hal ini dapat membantu mobil tetap mencengkeram aspal dan mengurangi selip di jalanan licin. Fungsi lain seperti sensor hujan dan lampu otomotis memberikan kesempatan kepada pengendara untuk lebih fokus pada kemudi dan situasi sekitar.
Sistem suspensi seperti yang terdapat pada Aveo dan Spin juga mampu meningkatkan kendali pengendara yang lebih baik di jalanan basah maupun kering. Hal lain yang tak kalah penting adalah fitur wiper control di semua model Chevy.
Pengemudi dapat menyesuaikan tingkat kecepatan pada wiper di kaca depan dan belakang untuk mendapatkan visibilitas terbaik. Selain itu, posisi katup pipa udara yang tinggi memberikan keuntungan bagi pengendara saat melintasi jalanan dengan genangan air yang cukup tinggi dan mencegah air mengalir ke mesin kendaraan.
"Meskipun kini kendaraan sudah didesain dengan cukup modern, pemanfaatan teknologi perlu diperhatikan untuk menjaga keselamatan. Oleh karena itu, dengan mengikuti saran-saran berikut, pengendara akan siap menghadapi jalanan yang basah sekalipun. Teknisi kami di diler juga dapat membantu pelanggan memastikan kendaraan mereka tetap prima untuk menghadapi musim hujan," kata Customer Care Director, General Motors Dadan Ramadhani, dalam siaran pers, Minggu (30/11/2014).
Berikut tips berkendara aman dari Chevrolet:
Setelah Ikut Touring Road Warriors, Makin Cinta Indonesia
Dalam Road Warriors 2014 ini dengan bertemakan "The Lost Adventures", jalur yang akan dilalui kali ini adalah dari Jakarta menuju Padang.
Mencintai alam Indonesia dan mengangkat sektor pariwisata adalah alasan kuat saya untuk menjadi bagian dari Road Warriors 2014, Jakarta-Padang. Bukan karena faktor hadiah utama yang sangat menggiurkan, bukan karena fasilitas yang akan diberikan oleh penyelenggara selama perjalanan, atau merasa ingin menjadi yang terbaik dari yang lain karena berhasil lolos seleksi diantara ratusan pendaftar lain.
Perasaan senang dan sangat bersemangat begitu mendapat khabar bahwa akhirnya saya lolos menjadi salah satu dari 10 orang finalis Road Warriors 2014. Ini artinya saya akan mendapatkan petualangan baru yang memang belum saya rasakan sebelumnya.
Ya! saya belum pernah riding ke kota Padang atau ke daerah Sumatra Barat. Apalagi melaui pesisir lintas barat pulau Sumatra. Dan hanya sekali melalui lintas barat, itupun dari Banda Aceh hingga Parapat, Sumatra Utara.
Hari keberangkatan telah tiba. Semua peserta berkumpul dititik keberangkatan yaitu dari markas detikoto pagi hari dibilangan Jl. Warung Buncit, Jakarta Selatan. Saya tiba dilokasi sekitar 06.26 WIB, empat menit lebih awal dari waktu yg diminta oleh panitia.
Memang bukan waktu keberangkatan yang lazim bagi kalangan bikers yang ingin berangkat turing. Apalagi hari itu adalah hari Senin, dimana di jam-jam tersebut adalah waktu yang tepat untuk menikmati ganasnya kemacetan ibukota. Ini sangat dihindari bagi kalangan biker turing. Mereka lebih nyaman mengambil waktu pada saat malam hari, tengah malam atau dinihari kalau ingin melakukan perjalanan turing motor.
Pada hari itu saya mengendarai Yamaha Soul GT lansiran tahun 2013, ini merupakan hal baru bagi saya karena ini merupakan kali pertama saya menggunakan motor matic. Bahkan yang saya tahu, jarak yang akan kami tempuh nanti kurang lebih sepanjang 1300 km. Ini tantangan baru, ini sebuah pencapaian menarik apabila saya berhasil sampai ditujuan nantinya. Bismillah..
Suasana akrab dan bersahabat nampak diantara peserta Road Warriors. Bagi saya ini hal yang sudah biasa, karena yang saya tahu biker itu biasanya mudah bergaul dan easy going. Makanya dimana mana bikers itu punya banyak teman bahkan saudara...brotherhood!. Mereka hadir dari klub, latar belakang dan sifatnya pun berbeda. Tugas sayalah untuk menerima dan menghormati segala perbedaan itu... respect each others!.
Waktu keberangkatan dimulai. Agak sedikit molor dari waktu yg ditentukan. Dan pada akhirnya saya memulai sebuah perjalanan baru menuju kota Padang, Sumatra Barat.
Seperti yang sudah saya prediksi sebelumnya, kita langsung disambut kemacetan yg luar biasa. Mandi sauna ala bikers sambil memecah belah kemacetan yang terjadi pagi itu. Sebuah resiko yang harus kita nikmati dengan tenang dan sabar untuk melewati jalur jalur rawan kemacetan Jakarta dari sekitar wilayah Jakarta Selatan hingga Kota Tangerang, Banten.
Butuh konsentrasi penuh, apalagi cuaca dipagi hari itu sangat terik. Fisik lebih mudah terkuras, keringat mulai membasahi pakaian yang kita gunakan saat itu. Bahkan helem yang kita gunakan pun basah terkena keringat kita sendiri.
Sebelum memasuki wilayah kota Serang, Banten rombongan berhenti untuk Isoma. Hujan deras mulai turun, kesulitan melewati kemacetan berubah menjadi tantangan melewati hujan lebat disepanjang jalan Raya Serang yang lebar namun berlubang.
Hand sign atau foot sign dalam group riding saat itu sangat diperlukan guna memberitahu rekan kami dibelakang agar tidak celaka dijalan yang licin dan berlubang. "Kita hati hati, banyak lubang..." Pesan Road Captain, Denny saat itu.
Selepas maghrib kita mulai menyebrang naik kapal Ferry menuju Lampung di Pulau Sumatra. Pada saat itu cuaca cerah saat kita semua berada di kapal, hanya saja suasana sudah gelap malam hari sehingga tidak banyak pemandangan laut yang dapat kita nikmati selain kelap kelip lampu kapal dan nelayan di kejauhan.
Waktu tempuh menyebrang naik fery menuju pulau Sumatera selama 2 jam kami gunakan untuk beristirahat. Ada yang tertidur pulas, ngopi, bersenda gurau, menonton TV, bahkan ada yang menge-charge Handphone yang memang disediakan gratis dikapal itu.
Hujan deras turun berbarengan bersandarnya kapal ferry yang kami naiki di pelabuhan Bakauhuni, Lampung. Dari buritan kapal nampak dikejauhan Monumen Siger berdiri kokoh diatas bukit menyambut kami para Rombongan Road Warriors di Tanah Sumatera.
Turun dari kapal, kami kami langsung tancap gas menuju kota Bandar Lampung. Saat itu kami sudah letih dan mengantuk dikarenakan awal perjalanan kami tadi pagi yang cukup banyak menguras tenaga. Ada kendala sedikit pada motor sist Mouza saat melewati Kalianda, dan tak lama berselang kendala pada motor berhasil diatasi. Kamipun langsung kembali melanjutkan perjalanan. Pada akhirnya tepat jam 00.00 WIB kami sampai tempat peristirahatan.
Pagi hari di kota Bandar Lampung, udara hangat hangat kuku. Rekan sekamar saya bro Erry nampak masih tertidur pulas. Dari jendela kamar nampak para peserta dan kru sedang sarapan pagi. Setelah mandi sayapun bergegas mengajak bro Erry untuk makan pagi. Pagi itu seperti pagi yang indah, cerita tentang perjalanan dari Jakarta -Bandar Lampung menjadi topik hangat diantara mereka dengan dibumbui senda gurau.
Briefing perjalanan nampaknya akan menjadi sarapan pagi tambahan kita selama beberapa hari kedepan. Briefing yang dipimpin oleh konsultan turing kami, Mas Andry Berlianto menginformasikan tentang jalur atau rute berat yang akan kami tempuh. Dengan tak lupa memberi semangat kepada kami untuk sebuah perjalanan ang nantinya akan banyak menemui pemandangan laut lepas yang indah serta Hutan lebat serta jalan berliku yang cukup berbahaya.
"Hari ini kita akan menemui banyak pantai dan menembus hutan Taman Nasional Bukit Barisan" ujar Bro Andry Berlianto saat briefing.
Konsentrasi penuh dan selalu focus diperjalanan sangatlah penting dalam turing seperti ini. Lagi lagi faktor cuaca buruk yang menjadi perhatian saya. Melalui pesan singkat dari rekan saya di Bengkulu yang kebetulan sering melalui jalur Bandar Lampung - Bengkulu, cuaca disana sering berubah-ubah. Kadang panas dan seketika berubah hujan lebat.
Bagi biker cuaca seperti ini kurang disukai, karena akan banyak menguras energi dimana kita harus menyesuaikan kondisi tubuh kita akibat perubahan cuaca tersebut. Selain itu kita juga butuh skill guna melibas jalan jalan yang kadang berlumpur, kemudian aspal yang basah tersiram hujan dan lubang lubang dijalan yang tertutup air.
Sekitar 1,5 jam perjalanan dari kota Bandar Lampung disaat rombongan mulai memasuki kawasan Taman Nasiona Bukit Barisan, mendadak langit biru berubah menjadi awan pekat yang langsung disusul dengan hujan lebat.
Kami segera berhenti disebuah warung kecil untuk mengenakan jas hujan. Disaat itulah dalam benak saya merasakan, sebuah petualangan sebenarnya akan segera dimulai. Saya baru sadar, ternyata saya dan rombongan sudah berada ditengah hutan lebat.
Pohon pohon tua dan besar menjulang tinggi lebih tinggi dari pohon kelapa. Daun dari pohon pohon itupun besar besar. Ditambah lagi kabut yang turun dan udara dingin pada siang itu. Bagi saya suasana seperti itu hampir mirip dengan suasana menuju gunung Bromo, hanya saja yang ini lebih lebat dan jalan yang berliku serta tanjakannya pun empat kali lebih banyak dan panjang. Coba bayangkan saja ya..
Disaat melewati banyaknya tikungan tikungan tajam dan curamnya tanjakan, mata sayapun terbelak seketika melihat hamparan lautan biru samudra hindia dibalik hutan Taman Nasional tersebut. Bagaikan bocah bocah kecil kami kegirangan.
Tidak peduli badan letih dan kedinginan, semua itu sekejap sirna. Sambil tetap focus mengendarai, sesekali kami menoleh ke kiri melihat hamparan laut biru yang indah dibagian barat negeri kita tercinta.
Panjangnya perjalanan melewati hutan dan tanjakan juga diikuti mulai langkanya bangunan dan pedesaan. Apalagi keberadaan SPBU tempat kita mengisi bahan bakar. Maka disuatu lokasi kita berhenti untuk menambah bahan bakar dengan cadangan yang kita siapkan sebelumnya.
Malam hari kitapun tiba ditempat peristirahatan dipinggir pantai kota Krui. Kita menginap disebuah penginapan. Namanya Penginapan Lovina. Penginapan Lovina dan beberapa penginapan sejenis lainnya dipinggir pantai Krui, biasanya dihuni oleh para backpacker atau para surfer asing.
Biasanya para orang asing tersebut bisa menginap berminggu-minggu bahkan kadang lebih dari sebulan. Selain terbilang murah, kadang mereka harus beradaptasi guna mencari waktu yang tepat untuk bermain surfing. Karena ombak yang bagus tidak datang tiap hari. Selain itu banyak dari "bule bule" tersebut membeli tanah disekitar krui dari warga setempat untuk dibangun villa atau tempat peristirahatan pribadi bagi orang orang asing tersebut.
"Di Krui tidak ada patokan harga untuk sebidang tanah. Warga disini biasanya menjual tanah ke bule bule itu dengan harga yang sangat tinggi dan cenderung tidak wajar. Kadang bisa mencapai 3 Milyar untuk sekitar 1 hektar tanah dan surat suratnya bisa dibilang tidak ada. Dahulu saya membeli tanah disini hanya 200 juta dan saya jadikan tempat penginapan ini" ungkap pemilik villa tempat kami menginap.
Sebenarnya pagi itu saya ingin melihat tempat penangkaran atau konservasi penyu di wilayah ini. Tapi nampaknya tidak sempat karena kami harus berangkat pagi menuju Bengkulu.
Setelah menyempatkan mengambil gambar pemandangan pantai disana dan sarapan, kami langsung tancap gas menuju Bumi Raflesia, Bengkulu.
Kami langsung disuguhkan dengan jalan rusak yang sedang diperbarui. Lebih dari 5 km rombongan kami harus dengan sabar dan pelan melewati jalan tanah dan berbatu. Selain itu udara panas dan debu tanah juga membuat kami kurang nyaman dalam perjalanan. But the show must go on.. This is the Lost Adventures, rite?
Penampakan kera kera liar mulai menemani kita dalam perjalanan. Tidak jarang mereka muncul dari pohon pohon liar dibukit seolah ingin menunjukan keberadaan mereka diwilayahnya.
Warga disekitarpun nampak sudah terbiasa dengan keberadaan para kera liar tersebut, walaupun tidak jarang kera kera tersebut menjarah hasil bumi warga setempat. Mungkin itu sebagai rasa protes mereka karena mungkin jalan jalan yang kami lalui itu dahulunya adalah rumah bagi mereka yang digusur paksa :)
Hujan lebat didaerah Krui dan sekitarnya beberapa bulan lalu memang benar benar membuat rusak parah jalan jalan yang kita lalui. Hal ini otomatis memperlambat waktu tempuh kita ke kota Bengkulu yang akan menjadi pit stop kita berikutnya. Ah..
Tapi bukankah kita di Road Warriors tidak mengejar waktu, justru kebetulan kita lebih dapat menikmati perjalanan dengan banyaknya pemandangan alam yang indah yang jarang kita lihat, bahkan mungkin sulit untuk bisa lagi kembali kesini. Kapan lagi...ayo nikmati !
Malam hari sekitar jam 10 lewat kita sampai di Kota Bengkulu. Kota yang terkenal dengan julukan Bumi Raflesia ini pernah saya sambangi beberapa tahun lalu. Saat itu kota Bengkulu baru terkena Gempa hebat dan banyak bangunan dikota itu hancur.
Saat ini kota Bengkulu sudah pulih dan bangunan bangunannya sudah berdiri kokoh dan masih menjadi kota yang indah dan layak untuk dikunjungi.
Kita juga disambut oleh beberapa klub dan komunitas Yamaha disana, yang rela menunggu rombongan kami sejak sore hari hingga malam tanpa kabar berita. Harap maklum, karena memang jangkauan signal provider bisa dibilang kurang bagus. Bahkan beberapa diantara kami signalnya mati total, termasuk signal handphone saya.
Setelah jamuan dua gelas bandrek dari beberapa rekan klub Yamaha saya di Bengkulu, ditambah gorengan rasa susu khas daerah tersebut. Sayapun menutup cerita hari itu dengan beristirahat total alias tidur nyenyak di tempat peristirahatan.
Selamat Jalan Di Bumi Raflesia.. Begitulah tulisan besar yang terpampang kokoh di gapura perbatasan kota Bengkulu yang kita lewati. Teringat pesan rekan saya di Bengkulu pada malam sebelumnya, dia mengatakan bahwa jalur Bengkulu - mukomuko baru saja longsor karena hujan. Bahkan sempat putus akibat banjir yang hebat, dikarenakan hujan tanpa henti selama 3 hari berturut turut.
Siang itu cuaca cukup terik menyinari perjalanan. Baru setengah jam perjalanan, keringat sudah membasahi kaos didalam jaket yang kita gunakan. Instruksi menambah kecepatan kuda besi kita dari Road Captain. Selain menghilangkan jenuh, angin yang menerpa tubuh kita cukup membantu kondisi tubuh kita dari panasnya cuaca.
"Banyak minum air putih, jangan sungkan sungkan kasih tahu jika capai atau ngantuk. Lebih baik kita berhenti beristirahat ketimbang memaksakan" ujar Bro Budi salah satu kru dirombongan.
Sampai di Kecamatan Ketahun - Bengkulu Utara, rombongan beristirahat sekaligus sholat dan makan siang. Tak disangka kita kembali disambut oleh perwakilan Klub Yamaha Vixion setempat yang melihat rombongan Road Warriors melintasi bengkel tempat dia bekerja.
Namanya Bro Udin, dia salah satu member aktif Klub YVCI Chapter Ketahun. Dia sangat bangga bisa bertemu dengan kami dan menawarkan bantuan sukarela sekiranya dibutuhkan.
Hati saya meleleh mendengar ucapan dari bro Udin. Saya dan bro udin belum saling mengenal sebelumnya, perawakan nya yang kecil terlihat sibuk berkenalan dan menanyakan khabar satu persatu dari seluruh awak rombongan. Sangat bersemangat sekali bro Udin ini.
"Memang jarang sekali ada konvoi motor melintas di wilayah kami. Makanya saya antusias sekali begitu dikabari dari rekan kami di Bengkulu kalau bakal ada rombongan Road Warriors akan melintasi Ketahun. Makanya begitu lewat tadi langsung saya kejar aja, om" cerita Bro Udin sambil sumringah.
Perjalananpun dilanjutkan, dan lagi lagi jalanan terkendala akibat perbaikan jalan yang terken abrasi air laut juga longsor.
Saya makin penasaran seperti apakah kota Muko muko. Sebuah kota yang menurut wikipedia dan beberapa artikel buatan backpaker lokal yang menyebutkan wilayah Muko muko memiliki banyak pantai yang bagus, bersih dan asri serta pemandangan bukit serta semenanjung yang indah, semakin membuat saya tak sabar untuk sampai disana.
Harap maklum, karena kota Mukomuko terdengar asing dikuping saya. Jujur saja, saya baru tahu kalo di Indonesia ada sebuah kota yang bernama Muko muko. Bahkan saya sering salah menyebutnya menjadi "Moku Moku".
Pagi itu kita disibukan dengan jemuran pakaian kita yang basah akibat perjalanan yang diguyur hujan lebat. Cuaca buruk disertai hujan dan sambaran petir sepanjang perjalanan kami dari Bengkulu - Muko muko kemarin memang menjadi kondisi cuaca terburuk selama perjalanan itu.
Semua yang kita kenakan basah, dari baju, celana dan kaos kaki yang kita kenakan bahkan sampai jeroan Helm dan sepatu pun ikut basah terendam air hujan yang masuk kedalam. Luar biasa.
"Hari ini kita mendekati Kota Padang yang menjadi tujuan utama kita. Jarak tempuh tujuh jam perjalanan melewati pinggir pantai, serta gunung dan jalan yang berliku. Mari berdoa bersama demi keselamatan kita diperjalanan" beber Mas Andry saat briefing.
Memang banyak kendala sebelumnya dalam perjalanan kami. Baik kendala dari beberapa motor rekan kami, faktor cuaca dan beberapa hal non teknis. Dan itu semua tidak membuat semangat kami surut sejak awal. Semakin berat tantangan yang dihadapi dan semakin lemahnya kondisi fisik tubuh kami, sama sekali tidak menggoyahkan semangat satupun orang dalam rombongan Road Warriors ini.
"Kita sudah seperti saudara, kita mendadak menjadi sahabat, kita sekarang saling membutuhkan. Tidak ada satupun didepan kami nanti yang akan menghalangi. Saya dan semua rekan saya adalah Warriors. Kita akan sampai.." Dalam benak saya pada saat itu.
Dengan tidak lupa selalu mengirim pesan singkat saya kepada keluarga disetiap perjalanan ini, sayapun bergegas memarkirkan motor saya di belakang motor bro Endrik yang nampak sudah siap lebih dahulu dibarisan group riding saat itu. Sesekali saya menoleh ke wajah peserta lain yang tertutup helm Full face, sambil tersenyum. Saya lakukan itu hanya mencoba memberi semangat ke yang lainnya bahwa kita sudah dekat, dan kita akan berhasil.
Sambil menyusuri Jalan Lintas Barat Sumatra disisi kiri gunung Kerinci, perlahan kitapun mulai memasuki Provinsi Sumatra Barat. Wilayah Balai Tapan memang menjadi menjadi perbatasan antara Bengkulu Utara dengan Sumatra Barat. Daerah pesisir pantai berubah menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Nampak lumbung lumbung padi serta perkebunan pohon kakao milik petani setempat menghiasi perjalanan kami kala itu.
Siang harinya kita menyempatkan untuk Ibadah sholat fardhu Jumat disebuah Masjid kecil dipinggir jalan di Daerah Inderapura. Namanya masjid Al Aqsha, dibangun oleh warga setempat sejak tahun 1971. Cukup tua masjid itu, bahkan lebih tua dari umur saya.
Kemudian kita melanjutkan perjalanan, dan kali ini kita menghadapi kelangkaan SPBU. Ya, jarak antara SPBU yang satu dengan SPBU lainnya sangat jauh. Harus menempuh berpuluh puluh kilometer jauhnya agar dapat lagi menemui SPBU lain. Di kota Painan akhirnya kita dapat mengisi bahan bakar. Mungkin ini satu satunya Pom Bensin di Indonesia yang mempunyai pemandangan pantai, pohon nyiur melambai dan Hutan Bakau dipinggirnya.
Seperti biasa, kami langsung mengabadikan momen ini dengan ber foto ria, karena ini memang momen yang sangatlah langka bagi kami. Dari yang Selfie, groufie maupun mengabadikan motornya dengan latar belakang pantai. Termasuk saya sendiri yang sibuk dengan kamera handphone saya, sampai ada yang mengingatkan.
"Mas, kalo mau sholat silahkan. Dikasih waktu 15 menit" ujar Mas Ricky Agung. Sontak saya berlari menuju musholla yang ada di Pom Bensin itu.
Oke, kita jalan lagi. Senangnya mengendarai motor dijalan yang sepi juga mulus. Kita bisa menambah kecepatan kuda besi kita tanpa terlalu khawatir terhadap lubang dijalan. Namun ternyata situasi berbica lain, kalau sebelumnya kita selalu berhati hati dengan kontur jalan yang kadang tidak bagus, kali ini kita disuguhkan dengan hewan ternak Sapi piaraan warga yang sengaja dilepas.
Ada yang tertidur dipinggir jalan, ada juga yang hanya berjalan disisi jalan. Bahkan ada yang seenaknya menyebrang dikala kita lewat. Yang lebih pahitnya apabila kita tanpa sengaja melindas kotoran sapi yang bertebaran disepanjang jalan. Dalam hal ini saya bisa mengungkap pelaku pelindas kotoran sapi tersebut, tiada lain dan tak bukan adalah sist Mouza yang dengan tega melindas tumpukan kotoran sapinya.
Kita lupakan dulu (kotoran) sapinya, karena masih ada cerita lagi tentang indahnya Teluk Bungus. Kita berhenti istirahat dan sekedar ngopi ngopi disebuah warung tepat diatas Kawasan Pelabuhan Teluk Bungus. Sangat indah, dan itulah pertama kalinya kami melihat kota Padang dari atas bukit.
Sebenarnya saya sudah tidak sabar untuk melanjutkan perjalanan agar cepat sampai, tapi cuaca sejuk dan pemandangan indah serta lampu lampu kapal laut yang bersandar di pelabuhan membuat saya kembali betah berlama lama diwarung itu. Kami semua nampak nyaman, sambil ditemani sajian mie instan dan senda gurau kami larut dalam kebahagiaan seakan sudah sudah sampai. Padahal masih 30 km lagi ke kota Padang.
"Sebentar lagi kita sampai, mohon untuk lebih bersabar dan selalu berhati-hati. Ngga usah terbawa nafsu apalagi terburu buru. Kita tidak ingin ada masalah karena tujuan sudah dekat" pesan Mas Andry saat akan melanjutkan perjalanan.
Perasaan saya langsung plong, ketika Mas Andry tiba tiba menunjuk ke sebuah papan tulisan yang bertuliskan "Selamat Datang di Kota Padang". Seketika langsung mengepalkan tangan saya ke atas dan.. "Yes, Rancak Banaa! Alhamdulillah sampai juga!"
Wajah wajah lelah berubah menjadi wajah wajah yang penuh keceriaan, mirip dengan raut wajah mereka saat mengawali perjalanan Road Warrior 2014 ini yang penuh semangat dan penuh optismis.
Dan tak lama setelah kita menyentuh garis akhir di tempat kita menginap, kita semua bersalaman dan berpelukan. Tak lupa kita mengucap puji syukur atas keselamatan dan keberhasilan atas pencapaian kita semua.
Sekali lagi, Alhamdulillah ya Allah.. Engkau memang Maha Pelindung.
"Oke, Mari kita jalan jalan.." itulah yang ada dibenak saya saat membuka mata dari tidur pulas disebuah kamar Hotel yang cukup bergengsi di Kota Padang. Nampak rekan saya Erry masih tertidur pulas, ngga peduli jam waker yang dia pasang terus berbunyi dia nampak nyaman dengan tidurnya.
Perutpun terasa lapar, sayapun bergegas sarapan pagi di lantai dasar Hotel. Saya menyempatkan diri untuk sesaat menikmati pemandangan pantai yang posisinya ada dibelakang persis Hotel Pangeran. Saya bertemu dengan dua ladys bikers kami, yaitu sist Mouza dan Sisty yang sedang mengabadikan momen gambar dipagi yang agak sedikit mendung itu.
Tak lama setelah sarapan pagi, kamipun bergegas kembali ke kamar hotel masing masing guna menyiapkan perjalanan kita menuju kota Bukittinggi.
Memang dalam schedule hari itu, sesampainya di kota padang, kita akan jalan jalan menuju lokasi lokasi wisata disekitar padang. Semua sangat antusias, karena hampir sebagian besar dari peserta memang belum pernah sebelumnya menyambangi kota padang atau wilayah wilayah di Sumatra Barat. It's gonna be Awesome..
"Jarak tempuh jalan jalan kita hari ini adalah sekitar 3 jam ya.." sebut Mas Andry. Waduuh, kok lama amat ya? ini mah bukan jalan jalan kalo sampe 3 jam perjalanan, tapi turing lagi dooong.. Hehehe
Dari kota Padang menuju bukittingi, kita mampir disebuah air terjun yang terletak persis dipinggir jalan raya. Awalnya sempat bertanya tanya dalam hati perihal nama lokasi wisata ini. Tapi setelah membaca tulisan didepan pintu loket, disana tertera "Air Mancur Lembah Anai". Oh my God, ternyata ini yang namanya Lembah Anai.. :) disana kita berfoto foto bersama persis disebrang Air Mancur tersebut. Tepatnya diatas sebuah rel kereta tua yang konon katanya dahulu saat jaman Jepang digunakan untuk membawa hasil Bumi dari Padang ke Sawah Lunto. Kereeen... good spot for my Instagram :)
Hujan kembali menemani perjalanan kita menuju Danau Maninjau. Jalan yang naik turun serta berkelok kelok serta dihiasi suasana khas pedesaan Ranah Minang menjadi pemandangan kita disepanjang jalan itu.
Kita juga melewati kelok 44 yang terkenal. Dinamakan kelok 44 karena pada jalan menuju Danau Maninjau itu terdapat belokan tajam sebanyak 44 tikungan. Ngga usah cape cape menghitung jumlah kelokan tersebut, karena sudah ada penunjuk Angka disetiap kelokan tersebut dari 1 sampai dengan 44.
Setelah menikmati pemandangan Danau Maninjau dari atas bukit, akhirnya rombongan kami turun menuju lebih dekat kawasan Danau Maninjau untuk sekalian Makan Siang dan Ibadah. Sayang beribu sayang, cuaca saat itu kurang bagus, alias lokasi mendung, awan kelabu dan sedikit gerimis menyelimuti seluruh kawasan wisata itu.
Akhirnya kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kota Bukittinggi, sebuah kota yang cukup bersejarah serta memiliki Ikon terkenal yaitu Jam Gadang yang berdiri kokoh di tengah Kota. Banyak warga sekitar maupun para pelancong mengunjungi Lokasi Wisata Jam Gadang, terutama saat weekend tiba. Suasana nya lebih mirip sekitar Monas, Jakarta kala Weekend. Ada pedagang asongan, kue dan minuman, bahkan alunan orgen tunggal disudut taman turut meramaikan suasana.
Sungguh suasana yang tentram yang saya dapat disana. Pada saat itu saya lebih baik duduk diam sambil memandangi dan menikmati suasana sekitar, ketimbang ikutan berfoto dengan rekan rekan lain. Enjoy sekali saya pada sore itu.
Hari semakin larut, awan mendung masih menemani. Akhirnya kita memutuskan untuk segera kembali ke Hotel dengan sebelumnya untuk mampir membeli oleh khas jajanan Sumatra Barat guna dibawa pulang.
Hari ini adalah hari terakhir kami di kota Padang. Sekaligus merupakan agenda terakhir kami di Road Warriors 2014 dengan mengunjungi sebuah daerah di Padang Pariaman untuk memberikan bantuan sosial bagi sebuah pembangunan sebuah Surau atau Musholla disana. Yang lebih spesial,kali ini kami didampingi oleh Bapak Masykur, GM Marketing PT. YIMM.
"Kami akan namakan surau ini dengan nama Surau Kacang, karena sesuai dengan nama tempat Surau ini dibangun yaitu Kacang Kaum Toboh Baruak, Pakandangan". Ujar pak Muzakar SH Tokoh adat disana.
"Dahulu surau kacang berdiri disebelah sungai sana, sekarang sudah hancur terkena Gempa beberapa waktu lalu, sekarang kami berniat mendirikan kembali surau kacang ini dengan bangunan yang lebih kokoh, dan warga sekitar juga dapat menggunakan tempat ibadah ini" tambahnya.
Semua ini adalah pengalaman yang menarik dan sangat mengharukan bagi saya. Sangat banyak pengalaman seru dan cerita cerita indah dalam perjalanan Road Warriors ini. Kami selalu disajikan sebuah pemandangan indah nan cantik Bumi Indonesia. Negeri yang kaya akan budaya dan alam yang tiada duanya. Seakan tak pernah bosan saya selalu ingin menjelajahi negeri ini.
Seandainya bisa, saya ingin sekali mengulang perjalanan ini. Mengambil hikmah lebih dalam atas sebuah perjalanan yang membuat saya untuk lebih mencintai negeri ini.
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Ini Dia Mimpi Konsumen Avanza, yang Dikabulkan Toyota
Tidak kurang ratusan mimpi konsumen Avanza pun terkumpul melalui pesan elektronik yang dikirim melalui surat elektronik. akhirnya lima cerita dari para pemilik Toyota Avanza mengenai mobil impian mereka dipilih Toyota dan langsung diwujudkan.
Nah, penasaran mimpi apa saja yang diwujudkan oleh Toyota? Yuk kita simak yang berikut ini.